Ringankan Beban Emak- Emak, Dilla Hich akan Gratiskan Seragam Siswa/i Baru HUT Bhayangkara Ke -78,Polda Jambi Adakan Even Balap Sepeda Kapolda Cup Polsek Tengah Ilir Bekuk Dua Tersangka Pencuri Sawit Kecelakaan Maut di Tebo, Pemotor Tabrak Fuso, Satu Orang Meninggal Angkutan CPO PT SMS Diduga Penyebab Jalan Rusak, Ketua DPD Pekat IB Tebo Minta Pemerintah dan Kepolisian Tegas

Home / OPINI

Kamis, 20 Juni 2024 - 10:19 WIB

Hak Sosial-Politik dalam Demokrasi Indonesia: Kebebasan dan Pembatasan

Rizwan Handika (Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi)_

Rizwan Handika (Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi)_

Infonegerijambi.com, OPINI – Kebebasan hak sosial-politik merupakan salah satu pilar utama dalam sistem demokrasi yang sehat dan berfungsi. Di Indonesia, prinsip-prinsip demokrasi ini telah ditegaskan dalam konstitusi, yang menjamin hak-hak dasar warga negara untuk menyampaikan pendapat, berkumpul, dan berpartisipasi dalam proses politik. Namun, perjalanan menuju demokrasi yang substansial dan sejati di Indonesia masih penuh dengan tantangan dan hambatan yang kompleks.

 

Undang-Undang Dasar 1945 dengan tegas menjamin hak warga negara untuk menyampaikan pendapat, berkumpul, dan berpartisipasi dalam kehidupan politik. Kebebasan ini mencakup hak untuk berbicara dan berpendapat tanpa rasa takut akan penindasan atau represi. Hak-hak ini merupakan fondasi dari pemerintahan yang demokratis dan inklusif, di mana setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

 

Namun, jaminan konstitusional ini sering kali terhalang oleh praktik-praktik yang bertentangan dengan semangat demokrasi. Intimidasi politik, penyalahgunaan kekuasaan, dan dominasi kepentingan kapitalis sering kali menghambat kebebasan warga negara. Negara memiliki kewajiban untuk mengelola dan mengendalikan dominasi iklim kapitalis agar tetap berjalan dalam koridor yang tidak merugikan warga.

 

 

*Dinamika Kebebasan Sosial – Politik*

 

Dinamika sosial-politik di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun demokrasi secara formal telah diterapkan, banyak tantangan yang menghambat pelaksanaan demokrasi yang sesungguhnya. Salah satu indikator yang paling jelas adalah keributan yang sering terjadi saat pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Fenomena ini mencerminkan rendahnya sikap-sikap demokratis di kalangan masyarakat dan elit politik. Kekerasan dan intimidasi yang sering menyertai proses pemilihan ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dasar demokrasi belum sepenuhnya dipahami dan dihormati.

 

Tingkat nasionalitas politik masyarakat juga dinilai masih rendah. Ini menunjukkan bahwa demokrasi substansial, yang menuntut partisipasi aktif dan kesadaran politik dari semua warga negara, belum terlaksana dengan baik. Demokrasi substansial tidak hanya bergantung pada struktur formal seperti pemilihan umum, tetapi juga pada komitmen untuk membangun tradisi kebebasan dan penghormatan terhadap hak-hak individu dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Aspan Hattrick, balas pukulan ARB tapi Yopi Muthalib yang "Tekangkang"

 

Salah satu tantangan terbesar dalam demokrasi Indonesia adalah praktek politik uang yang merajalela. Politik uang tidak hanya melahirkan politisi yang korup tetapi juga mengekang hati nurani masyarakat dalam memberikan partisipasi politiknya. Praktek ini mencederai prinsip pemilu yang demokratis dan merusak integritas proses politik. Untuk mengatasi masalah ini, negara harus membuka dan memberdayakan ruang publik secara optimal sebagai instrumen bagi warga negara untuk menyalurkan aspirasinya. Selain itu, diperlukan penegakan hukum yang tegas untuk menutup celah yang memungkinkan praktek politik uang tumbuh subur, baik di kalangan elit politik maupun di kalangan masyarakat.

 

Kebebasan publik adalah instrumen penting dalam mewujudkan demokrasi yang substansial. Negara harus memastikan bahwa ruang publik terbuka untuk dialog dan partisipasi, tanpa adanya ancaman atau intimidasi. Pendidikan politik juga sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam proses politik. Dengan pemahaman yang baik tentang hak-hak mereka, warga negara akan lebih mampu mengenali dan menolak segala bentuk pelanggaran.

 

 

*Pembatasan Kebebasan Hak Sosial-Politik*

 

Namun, kebebasan hak sosial-politik tidak bisa dipandang tanpa batas. Ada konteks di mana pembatasan terhadap HAM diperlukan untuk menjaga ketertiban umum, keamanan nasional, dan moralitas publik. Misalnya, kebebasan berpendapat harus sejalan dengan tanggung jawab untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian, fitnah, atau propaganda yang mengancam kerukunan masyarakat.

BACA JUGA :  Satuan Unit Reskrim Polsek TembesiĀ  Menangkap Pelaku Dugaan Pencurian

 

Pembatasan HAM dalam konteks sosial-politik sering kali diperlukan untuk memastikan bahwa kebebasan satu individu tidak merugikan hak individu lainnya. Kebebasan berkumpul dan berdemonstrasi, misalnya, harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu ketertiban umum atau merusak properti publik. Negara memiliki kewajiban untuk menyeimbangkan antara perlindungan hak-hak individu dan kepentingan umum, memastikan bahwa pembatasan yang diterapkan adalah proporsional dan tidak diskriminatif.

 

Selain itu, kebebasan media dan pers, meskipun sangat penting dalam demokrasi, juga harus diatur untuk mencegah penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan yang bisa membahayakan stabilitas sosial dan politik. Regulasi yang ketat dan penerapan kode etik jurnalistik diperlukan untuk menjaga integritas dan keandalan informasi yang disampaikan kepada publik.

 

 

*Persimpangan Jalan*

 

Demokrasi di Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan. Meskipun prinsip dan jaminan hak warga negara telah diakui dalam konstitusi, pelaksanaannya masih jauh dari ideal. Perlu ada komitmen yang kuat dari semua elemen bangsa untuk membangun tradisi kebebasan yang diiringi dengan penegakan hukum yang tegas. Hanya dengan begitu, Indonesia dapat mencapai demokrasi yang substansial dan berkeadilan sosial bagi semua warganya.

 

Untuk memajukan demokrasi, masyarakat harus terus memperjuangkan kebebasan publik dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan politik. Demokrasi politik sebagai sarana dan demokrasi sosial sebagai tujuan adalah dua sisi dari mata uang yang sama, yang keduanya harus diperjuangkan untuk mewujudkan keadilan dan persamaan. Sebuah demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang mampu mendengar dan menghargai suara setiap warganya, memastikan bahwa hak-hak asasi dihormati dan dilindungi. Dalam upaya ini, setiap individu memiliki peran penting untuk berkontribusi menuju Indonesia yang lebih demokratis dan berkeadilan.***

Share :

Baca Juga

OPINI

Aspan Hattrick, balas pukulan ARB tapi Yopi Muthalib yang “Tekangkang”

OPINI

Presiden HIMSAK Tantang Cakada Kedepankan Politik Gagasan di Kerinci dan Sungai Penuh